UKM Mempopulerkan Jajanan Pasar

Rasa es cendol memang menyegarkan. Kesegaran itu dirasakan Mee Mee yang menjadikan cendol sebagai bisnis. Kini, ibu satu anak ini punya 30 outlet dengan omset sekitar Rp 100 juta/bulan.

“Awalnya saya Juga tidak menyangka bahwa usaha Ini bisa besar seperti saat Ini. Padahal, semuanya berawal hobi. Suami saya senang minum cendol.” ujar Mee Mee, pemilik usaha cendol De Keraton membuka percakapan dengan Warta Kota di kantornya di Jalan Pajajaran III No 16, Bogor, beberapa waktu lalu.

Mee Mee menyatakan, jajanan pasar seperti cendol dan penganan tradisional merupakan bisnis yang potensial untuk dikembangkan. Asalkan, katanya, dikerjakan secara serius dengan mengedepankan inovasi, keuletan, dan idealisme untuk menyediakan makanan enak dan sehat.

Keuletan perempuan kelahiran Solo, Jawa Tengah ini, tidak saja memperbesar pundi-pundi bisnisnya, tapi juga mendapatkan pengakuan dari Kadin Indonesia dan Lions Club. Beberapa waktu lalu, usaha cendol De Keraton ditetapkan sebagai salah satu pemenang UKM Entrepreneur Award 2010 di bidang inovasi.

“Kami dinilai sukses membawa minuman tradisional ke dalam kehidupan modern dan digemari masyarakat. Dijual di mal-mal dan masuk ke pesta-pesta. Dan. usahanya sendiri dikelola secara profesional. Selain dilihat kegiatan produksi dan pemasarannya, tim juri juga melihat laporan keuangan kami.” ujar Mee Mee saat menceritakan pengalamannya ikut ajang kompetisi UKM.

Mee Mee bersyukur bisa ikut mempopulerkan jajanan pasar kepada masyarakat. Saat ini, katanya, permintaan dari daerah, seperti Surabaya, Makassar.-Manado, Semarang, sudah banyak, tapi belum bisa dipenuhi.

Diharapkan, akhir tahun 2010, dia sudah bisa mengoperasikan cabang pertamanya di Bali. Kalau di Pulau Dewata Bali itu berjalan sukses, akan memudahkannya menjangkau daerah lain di sekitarnya. “Saat ini tempat produksinya baru di Bogor sehingga hanya bisa melayani daerah Jabodetabek dan Bandung. Kalau produksi di Bali Jalan, bisa menjangkau Surabaya dan daerah sekitarnya,” ujar Mee Mee.

Dari garmen

Sebelum terjun ke bisnis cendol. Mee Mee dan suaminya menekuni bisnis garmen sebagai profesional maupun pemilik bisnis. Mereka pernah bekerja sebagai profesional di sebuah pabrik jaket sport di Bogor sekitar 10 tahun sejak tahun 1989. Di pabrik garmen itu. Mee Mee mengurus bidang ekspor dan buyer sehingga sering pergi ke luar negeri.

Lalu, dia bermitra membangun bisnis garmen sejak tahun 1996 sampai 2000. Karena terjadi konflik dia bersama sua-minya memutuskan untuk tidak melanjutkan kemitraan bisnis tersebut. “Langkah itu diambil untuk menyelamatkan nasib 800 karyawan di pabrik itu. Saya tidak menyesal telah meninggalkan bisnis garmen yang sudah digeluti sekian lama. Justru pengalamannya bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan bisnis yang ada sekarang. Saya merasa benar-benar digembleng dalam bisnis garmen. Pernah tiga hari tidak pulang ke rumah karena sibuk mengurusi ekspor,” ujar Mee Mee.

Perempuan yang senang bermedltasi itu mengaku mereka sempat vakum dalam bisnis sekitar dua tahun. Baru pada tahun 2002, suaminya memutuskan untuk menekuni hobinya berbisnis kristal. “Kristal tidak sekadar keindahan, tapi juga berguna untuk kesehatan dan meditasi,” tambah Mee Mee.

Mengeluti bisnis cendol, kata Mee Mee, sebenarnya tidak disengaja. Suaminya suatu saat dikasih resep membuat cendol. “Dari situ,muncul ide membuat usa-,, ha cendol. Suami saya sih yakin usahaini bisa dikembangkan.” ujarnya.

Dari situ Mee Mee dan suaminya mulai menggarap konsep bisnisnya. Sebab, dia ingin membuat cendol yang beda. Artinya, selain minuman enak, tapi Juga sehat serta memiliki konsep yang unik. “Penggarapannya memakan waktu tujuh bulan. Rasanya terus kami perbaiki hingga punya rasa yang pas.” tambahnya.

Sejak awal Mee Mee menggunakan bahan baku berkualitas, tanpa pengawet dan tanpa zat pewarna, dalam membuat cendol. “Manisnya asli dari gula merah dan gula pasir. Santennya Juga dari buah kelapa. Santen tak mengakibatkan kolesterol, kecuali kalau lewat proses pemanasan. Hal seperti itu sudah kami konsultasikan dengan ahlinya sebelum kami masuk pasar. Untuk memberi kesan unik, kami gunakan rombong untuk tempat cendolnya,” katanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: