Kerajinan Tas dan Sepatu Dongkrak Citra Lamongan

Lamongan terus berkibar. Produk kerajinan tangan, seperti tas dan sepatu, dari eceng gondok, goni, lidi, rotan, mendong, dan tempurung kelapa ikut mendongkrak citra Kabupaten Lamongan sebagai sentra industri kecil.

Sentra industri kerajinan tangan di Jalan Sunan Kalijogo Nomor 120, Lamongan, kini juga semakin menambah harum Lamongan. Hampir setiap hari ada saja bus pariwisata diparkir di kawasan itu setelah penumpangnya menikmati keindahan alam Wisata Bahari Lamongan (WBL).

Menurut tukang becak di Kota Lamongan, rombongan turis lokal maupun asing singgah di sentra itu sehabis dari WBL. Mereka biasanya membeli buah tangan di R&D Handycraft Lamongan. Mereka membeli tidak hanya tas atau sepatu, tetapi juga pernik-pernik lain yang menggunakan bahan baku lokal. Produk juga dipercantik bordir dan sulam pita untuk memenuhi selera pasar.

Produk kerajinan tangan karya perajin Lamongan itu sudah menembus Balikpapan, Palembang, Bandung, dan Denpasar. Bahkan, produk itu juga merambah pasar ekspor terutama Malaysia, Hongkong, dan Jamaika serta kawasan Timur Tengah.

Menurut Ucok (32), perajin tas, pesanan tas dengan bahan lidi diekspor secara rutin pada 2006-2009 ke Timur Tengah. Minimal dua peti kemas berukuran 20 kaki dikirim ke Timur Tengah sekali dalam dua bulan.

Saat order melimpah, pekerjaan dibagi ke sentra kerajinan lain di Lamongan. Hal ini karena tidak jarang sebuah order bisa mencapai 5.000 tas dengan batas waktu pengerjaan tidak lebih dari sebulan.

Menurut Muksin (35), perajin anyaman, tas dari bahan baku alami justru diminati konsumen luar negeri. Apabila modelnya terus berubah, pesanan tidak pernah sepi dan tidak ada musim tertentu. “Sepanjang tahun, pesanan tas berbagai model dan bahan baku pasti ada. Tidak jarang perajin harus melembur agar order selesai tepat waktu,” katanya.

Perajin umumnya baru menggarap produk sepulang dari sawah atau ladang. Mengerjakan berbagai barang kerajinan bukan pekerjaan utama mereka sehingga tidak bisa dipaksakan. “Hal paling utama, bagaimana hasilnya sempurna sehingga konsumen tidak kecewa,” ujarnya.

Valis (29) dari bagian pemasaran mengatakan, produk sentra kerajinan tangan R&D Handycraft diminati pasar karena modelnya cepat berubah. Semua produk perlu cepat berubah sehingga konsumen tidak bosan. “Perempuan umumnya cepat bosan pada satu model. Peluang ini harus dimanfaatkan dengan menciptakan model terbaru minimal dalam dua bulan,” ucapnya.

Hampir 70 persen kaum perempuan konsumtif sehingga keinginan berbelanja tas dan sepatu begitu besar. “Pesanan sepatu goni dibordir tidak kurang dari 5.000 pasang per bulan untuk pasar DI Yogyakarta dan Bali,” katanya.

Sepatu goni dengan warna mencolok dan dibordir tengah digandrungi. Akibatnya, pesanan dari DI Yogyakarta dan Bali terus meningkat. Khusus DI Yogyakarta, secara rutin dikirim minimal 1.000 pasang sepatu berharga rata-rata Rp 25.000 per pasang. Produk kerajinan ternyata ampuh mendongkrak citra Kabupaten Lamongan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: