INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN

Registrasi Produk Perlu Dikaji Ulang
Ada kabar gembira bagi pelaku industri makanan dan minuman. BPOM akan mengubah aturan yang mewajibkan registrasi ulang nomor MD setiap lima tahun sekali bagi produk makanan dan minuman olahan di Indonesia.
Produk makanan dan minuman China sebentar lagi bakal membanjiri pasar Indonesia. Menyadari gen-tingnya situasi, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan membantu para pelaku industri makanan dan minuman domestik. Salah satunya adalah mengkaji aturan baru yang terkait dengan proses registrasi ulang produk makanan dan minuman (mamin) olahan di dalam negeri (MD).

Kepala BPOM Kustantinah mengatakan, langkah itu untuk membantu industri (mamin) olahan nasional. “Diupayakan agar registrasi ulang tidak haru; mengganti desain kemasan dan nomor izin edar. Selama formula, kemasan, dan proses produksinya sama, nanti registrasi ulang tetap dengan nomor yang sama,” katanya.

Walau ada penerapan single MD, namun pemeriksaan fasilitas produksi tetap dilakukan. Karena proses produksi itu dan single MD mempengaruhi mutu produk. “Walaupun nomor registrasi MD di Jawa dan Sumatera sama, tapi fasilitas produksi di tiap basis produksi daerah tetap diperiksa,” ujarnya. Sementara Ketua Gapmmi Jawa Timur Yapto Willy Sinatra mengatakan, kewajiban tersebut dapat memberatkan pedagang mamin, terutama yang berskala kecil dan menengah. Karena dalam meregrustrasi ulang dan men-ganti nomer MD, sehingga wajib men-ganti kemasan.

“Itu menjadi biaya produksi. Belum lagi kalau masih ada stok lama sehingga produk merek yang sama berbeda nomor. Akhirnya produk itu ditarik dan yang rugi pedagang,” tutur Yapto. Hal tersebut, lanjutnya, dapat menimbulkan kerugian hingga ratusan juta bagi pedagang dan industri mamin skala UKM.

Ketua Umum Gapmmi Thomas Darmawan mengatakan hal senada. Menurut Thomas, jika harus registrasi ulang setiap lima tahun sekali, tidak masalah. Asalkan nomornya tetap sama dengan registrasi lama karena nomor itu dicantumin di label. “Jadi, registrasi ulang tidak harus mengganti desain dan kemasan,” kata Thomas.

Hal itu, imbuh dia, tidak mudah untuk dilakukan. Pasalnya terkait dengan bahan baku. Labelisasi Halal
Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Agro dan Kimia Kementerian Perindustrian, Benny Wahyudi memandang, rencana pewajiban labelisasi bagi makanan dan minuman tidak dapat dilakukan.”Sertifikasi halal tidak bisa diwajibkan untuk semua produk karena menyangkut kepercayaan. Selama ini, pelaksanaan sertifikasi halal secara sukarela.

Sedangkan untuk menekan laju impor mamin, Benny menyebut, pemerintah menerapkan labelisasi wajib dalam Bahasa Indonesia, Standar Nasional Indonesia (SNI), dan pembatasan pelabuhan impor seperti diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan nomor 56 tahun 2008 tentang Impor Produk Tertentu. Penerapan peraturan-peraturan tersebut selain untuk melindungi konsumen juga memproteksi industri dari perdagangan tak sehat.

Dia menjelaskan, sertifikasi halal bukan sebagai safeguards tetapi untuk proteksi konsumen. “Industri mamin jangan terlalu khawatir terhadap produk impor karena self protection dari karakter konsumen Indonesia yang prefer produk halal dalam negeri,”tegasnya. Menurut Thomas Darmawan, penerapan labelisasi halal wajib akan sulit dilakukan di Indonesia. Karena faktor biaya sertifikasi yang relatif mahal dan konsumen yang lebih mementingkan harga murah.

“Biarkan saja sertifikasi halal dilakukan lewat insiatif produsen yang merasa perlu mencantumkan status kehalalan produknya. Mengingat, pengujian kehalalan menyangkut penelitian terhadap seluruh bahan baku yang terkandung dalam suatu produk mamin,” katanya. Makin banyak produk yang terkandung, imbuh dia, makin tinggi biaya sertitikasinya. Sehingga menjadikan harga jual produk meningkat dan kalah kompetitif ketimbang barang impor seperti dari China.

Pendapat yang tak jauh berbeda juga diungkapkan Wakil Direktur Operasi PT Sinar Sosro, Riyanto. Sinar Sosro adalah produsen minuman dalam kemasan dengan merk dagang SOSRO.

Menurutnya, perusahaannya telah melakukan sertifikasi halal untuk produk teh siap minum dalam botol sejak awal 1990-an. Penerapan label halal diakuinya menaikkan penjualan, namun tidak dapat dihitung secara terukur.

Lagipula, dia berpendapat harga yang murah lebih meningkatkan penjualan dengan signifikan ketimbang label halal. “Kami melabeli produk dengan halalagar lebih meyakinkan konsumen,” ujarnya, nurul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: