Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 10 %

Jakarta – Tahun kelabu sudah lewat. Saatnya industri mulai bangkit dari , keterpurukan untuk memenuhi target pertumbuhan di tahun macan. Salah satunya adalah industri makanan dan minuman (mamin).Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmj), Thomas Darmawan, mengatakan, di 2010 ini industri mamin diperkiakan akan tumbuh 10 % bila dibandingkan dengan 2009. Saat itu pertumbuhan industri mamin hanya 6 %.

“Walaupun tahun ini implementasi perjanjian perdagangan bebas Asean -China mulai berjalan, industri mamin tetap optimis akan tetap tumbuh bahkan meningkat dari tahun lalu,” katanya di Jakarta, Senin (25/1).Dengan harapan pertumbuhan 10 % tadi, maka sektor ini juga berharap terjadi peningkatan omset dari tahun 2009. Tadinya omsetnya hanya mencapai Rp 550 triliun maka di tahun ini diharapkan bisa mencetak omset, Rp 600 triliun.

Raihan ini bukan tidak mungkin, soalnya ada perbaikan daya beli masyarakat yang sempat me-
nurun karena efek krisis Financiai global tahun lalu. Apalagi di tahun ini pula gaji pengawai negeri sipil (PNS) naik, sementara inflasi lebih kecil di bawah 6 %.

Guna mendukung itu, maka harus didukung oleh berbagai faktor antara lain ketersedian ba-han baku utama industri mamin. Ini dikarenakan keadaan cuaca baik di Indonesia maupun dunia yang sedang tidak baik membuat fluktuasi harga bahan baku akan bergejolak melebihi harga di tahun 2009.

“Misalnya jeruk Sun-kis yang mengalami kerusakan akibat salju yang begitu hebat, terus kedelai dan jagung hingga saat ini belum juga tanam, sehingga harga akan naik terus, pemerintah harus bisa antisipasi ini, dan saya harap minggu ini sudah mulai tanam,” terangnya.

Selain itu, pemerintah perlu menjaga harga gula rafinasi. Pasalnya 60% -70% kompoposi bahan baku industri mamin adalah gula rafinasi. Dan gula di industri mamin adalah diperlukan sebagai pemanis, pengawet Soalnya kalau tidak ada gula maka tidak bisa berproduksi. “Jangan gara-gara tidak ada gula industri mamin tidak tumbuh,” cetusnya.

Untuk menghadapi daya saing dengan produk mamin dari China, Thomas berharap pemerintah melakukan harmonisasi tarif. Terutama tarif antara tarif Bea Masuk (BM) bahan baku dengan industri jadi. Contohnya untuk permen dari negara China dan Asean masuk ke Indonesia dengan bea masuk nol persen.

“Sementara itu bea masuk untuk gula rafinasi masih sebesar Rp 400 per kg. Ini perlu segera di harmonisasi agar industri permen dalam negeri tidak mati mendapat gempuran permen dari China,” jelasnya.Soal impor mamin dalam beberapa tahun ini terus mengalami penurunan. Berdasarkan data Gapmmi, impor makanan olahan tahun 2007 sebesar USS 1,950 miliar, mengalami penurunan pada tahun 2008 menjadi USS 1,03 dan turun kembali di tahun 2009 menjadi USS 1,2 miliar.

“Walaupun turun, tapi impor mamin pasti terus ada tiap tahunnya, karena ada beberapa produk yang harus diimpor. Apalagi Indonesia tidak produksi, terutama untuk mamin olahan dari China yang diimpor setiap menjelang imlek seperti manisan,”terangnyanumi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: